the real CUTE

Minggu, 11 November 2018

Dana Desa Penuh Berkah

Berkah dan Celah Dana Desa

Dana desa tidaklah asing bagi kita. Sangat familiar sekali melebihi dana-dana yang lain mungkin karena jumlahnya yang fantastis sehingga gampang diingat . Dana yang digelontorkan pemerintah pada tahun 2018 tahap mencapai 149,31 triliyun (kemenkeu.go.id/publikasi) atau kurang lebih 800 juta per desa (tempo.co) . Fantastis bukan. Mata siapa yang tidak terbelalak melihat nominal uangnya (bagi masyarakat menengah ke bawah termasuk saya ).
Pemanfaatan dana desa biasanya digunakan untuk membangun infrastruktur desa yang belum ada, merenovasi insfrastruktur yang rusak, serta pembangunan program padat karya untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Dengan manajemen keuangan dan pengalokasian yang baik pasti semua lapisan masyarakat di desa dapat merasakan efek dana desa tersebut. Asalkan tidak masuk ” kantong sendiri “ semua dana dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. Banyaknya warga desa yang tidak mengerti atau bahkan memang tidak ingin tahu-menahu sistem pemerintahan desa apalagi keuangan desa menjadi celah lebar oknum perangkat yang memiliki kepentingan pribadi dalam pemanfaatan dana desa. Dana yang seharusnya dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat justru raib masuk “kantong” untuk kepentingan pribadi. Memang siapa yang tahu jika masyarakatnya saja tidak ingin tahu-menahu? Sebenarnya jika saja dipasang banner besar minimal depan balai desa mengenai kucuran dana desa dan dana yang dialokasikan untuk kebutuhan desa mungkin masyarakat akan tercerahkan dan tahu bahwasanya dana yang begitu besar dapat dimanfaatkan dengan cukup baik , tahu sisa dana desa berapa dan nantinya untuk apa. Kemudian setiap akhir tahun diadakan rapat tahunan mengenai dana desa yang berasal dari sewa tanah dan sumber dana lainnya. Intinya keterbukaan terhadap masyarakat itu penting toh semua itu memang haknya mereka bukan?
Terlepas dari itu semua, memang sekarang banyak desa yang dibangun infrastrukturnya. Mulai dari balai desanya yang tampak makin megah, jalan-jalan beraspal dan gang-gang sempit berpaving sehingga tidak akan ada lagi yang berceletuk “ hujan-hujan, becek, gak ada ojek” semua sudah dibangun semakin memudahkan akses masyarakat untuk saling bersilaturrahmi satu desa ke desa lainnya. Jalan-jalan yang sebelumnya dianggap “angker” karena tidak ada rumah disisinya penuh dengan kebun-kebun tak terawat , sekumpulan pohon bambu yang berjajar dengan suburnya, bahkan kebun yang sangat jarang dijamah oleh pemiliknya kini dianggap sebagai jalan alternatif dan mulai menarik minat untuk dijadikan tempat membangun hunian. Selain harganya yang masih relatif murah juga suasana yang tidak terlalu ramai dan tentunya masih banyak pohon sehingga terasa sejuk.


Kemudian ada pembangunan pelebaran kalen (sungai kecil buat irigasi sawah) yang akhirnya dibangun setelah sekian lama menanti. Pembangunan irigasi penting karena bagi sawah yang jauh dari pusat kalen maka jelas paling sedikit terima ceperan air itupun jika tidak ada yang memang sengaja memblokir jalan air supaya menggenangi sawah sendiri. Atau mungkin opsi lain membangun irigasi di bengkok kades yang kebanyakan memiliki posisi strategis untuk menyalurkan air ke sawah-sawah lain. Kalen yang besar juga dapat dimanfaatkan ajang menyalurkan hobi mancing dan mencari ikan untuk tambahan lauk saat musim hujan. Keuntungan ganda bukan?


Jalan sepanjang persawahan pun juga dibangun dengan tambahan lampu-lampu jalan yang notabene dulu tidak ada. Jadi setiap malam sangat sedikit orang yang lewat daerah situ namun kini sudah tidak lagi karena ada lampu jalan sepanjang mata memandang menuju salah satu dusun di desa. Seluruh akses jalan kini sudah diterangi lampu jalan . Jadi jalan yang gelap menerawang sekarang menjadi terang benderang.


Balai desa juga dibangun lebih besar , lebih megah, dan lebih bergaya tentunya. Rencana pembangunan untuk tahun depan juga sudah dipersiapkan. Seperti pembangunan jalan menuju mushola (yang merupakan lahan pribadi) tetapi sudah menjadi jalan umum karena setiap hari dilewati jamaah yang akan beribadah serta lahan yang rencananya akan dijadikan tempat olahraga nantinya. Seperti sekarang sudah banyak perkumpulan senam aerobik beranggotakan ibu-ibu dan tim bola voli beranggotakan pemuda dan bapak-bapak. Juga ada karang taruna yang semakin berkembang dan inovatif yang disupport dananya untuk mengadakan berbagai acara yang mampu mempererat tali silaturrahmi antar warga antar dusun keseluruhan.



Dana desa yang tersalurkan dengan baik sangat jelas membawa manfaat kebaikan bagi masyarakat sendiri tetapi juga prestasi desa tersebut di mata desa lain. Dan yang paling disorot atas prestasi tersebut tentu saja kadesnya. Oleh karena itu, pemanfaatan dana desa seharusnya semaksimalnya bukan malah seminimalnya . Toh presiden menginstruksikan dana desa untuk kepentingan masyarakat bukan untuk kepentingan perangkat. Semoga kedepannya pemanfaatan dana desa semakin maksimal untuk kesejahteraan masyarakat .





Di bawah sorot lampu , Liema 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar